Tuesday, August 21, 2012

Dilarang Pelihara Gundik!

IP is over the quota

PADA mulanya perempuan berkulit putih yang berkeliaran di Batavia hanyalah istri dan anak-anak perempuan para pejabat VOC yang diberi izin khusus untuk tinggal di Hindia Belanda.

Tidak semua jejaka Eropa di Batavia mampu menikahi anak-anak perempuan yang terbiasa hidup mewah itu. Sebagian besar jejaka itu bekerja sebagai pelaut atau pegawai rendahan VOC. Mereka tak mungkin dapat membiayai rumah tangga dengan banyak budak, apalagi membelikan perhiasan dan pakaian mewah untuk istri-istri berdarah Belanda yang dibesarkan di Batavia!

Bagaimana dengan gelora dan darah lelaki Belanda yang mendidih oleh panasnya matahari di khatulistiwa? Sebetulnya tidak ada jalan lain kecuali mencari "kasih-sayang" dalam pelukan perempuan pribumi.

Sampai sekarang belum ditemukan dokumentasi mengenai pelacuran di Batavia. Barangkali memang pada masa itu belum ada pelacur pribumi. Kehadiran budak-budak perempuan yang terpaksa pasrah menemani tuannya, di tempat tidur meniadakan kebutuhan akan pelacur. Karena budak-budak itu sudah tinggal di bawah satu atap, pergundikan muncul dan terjadi begitu saja.

Sebetulnya, Gubernur Jenderal di Hindia Belanda, Jan Pieterszoon (JP) Coen, yang rajin ke gereja, melarang praktik pergundikan (lihat Reggie Baay. De Njai: Het Concubinaat in Nederlands-Indie. Amsterdam: Athenaeum-Polak & Van Gennep. 2008). Ia dan para pejabat tertinggi di Batavia mendukung perkawinan antara pria Eropa dan perempuan Eropa atau perempuan berdarah campuran.

Namun, pada masa itu perempuan-perempuan berkulit putih yang dapat dinikahi hanyalah anak-anak perempuan pejabat. Jumlahnya tak banyak dan mereka sudah terbiasa pula dengan kehidupan mewah yang disediakan oleh Pappienya.

Larangan JP Coen merepotkan juga karena sebagian besar warga Batavia merupakan pegawai-pegawai rendah dan serdadu miskin. Mereka tak mampu menikahi seorang perempuan (Indo)-Eropa. Walaupun ketika itu, perkawinan lelaki Eropa dengan perempuan pribumi juga direstui. Namun, mereka harus mendapatkan izin dari atasannya untuk menikah.

Bila perempuan yang hendak diperistri merupakan budak, ia harus dibebaskan dulu dari belenggu perbudakan itu dengan membayar tunai kemerdekaannya.

Budak perempuan, calon pengantin itu, harus pula beragama Kristen atau secepatnya dibaptis di gereja. Dalam waktu yang singkat, budak perempuan yang menikah dengan tuannya tidak hanya mendapatkan suami baru, ia juga memperoleh agama dan nama Kristen yang baru pula!

Seperti kupu-kupu yang keluar dari kepompong, si Iyem tiba-tiba menjadi Katrientje! Ia juga diharuskan belajar bahasa Belanda, tetapi dalam praktiknya, suami-isteri anyar itu lebih banyak berbahasa Melayu. Logis pula. Siapa yang masih bisa bercumbu dalam bahasa asing bila cinta sedang bergelora?

(frieda.amran@yahoo.com, pendiri Wariss: Warisan Insan di Selatan Sumatera)

Monday, August 20, 2012

Gurihnya Sate Tulang Ayam

IP is over the quota

SATE Tulang? Apa bisa tulang dimasukkan ke tusukan? Bagaimana bentuknya? Dan berbagai pertanyaan lainnya pun bermunculan. Namun, itulah menu andalan Kedai Sate Tulang Eldorado milik Stevanus yang terletak di pelataran parkir Apartemen Wisma Gading Permai Kelapagading, Jakarta Utara.

Mengapa bernama sate tulang? Stevanus menjelaskan bahwa sebutan itu dipakai karena daging ayam yang menjadi isi tusukan memang dipilih yang mengandung tulang. "Sate tulang kami merupakan jenis sate yang berbahan dasar ayam. Kami khusus menggunakan bagian punggung ayam, makanya terdapat tulang dalam satenya," tutur Stevanus kepada Warta Kota beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan proses penusukan ayam bertulang ke tusukan sate memang memerlukan teknik khusus. Sesuai dengan judul kedainya, sate tulang memang merupakan hidangan khas Banjarmasin Kalimantan. "Namun tidak sepopuler soto banjar yang telah merambah perkotaan. Sate tulang kebanyakan berkembang di daerah perkampungan. Kebetulan Oma dan Opa saya berasal dari sana," kata pria berjenggot tersebut.

Perbedaan racikan sate tulang khas Banjarmasin dengan sate ayam umumnya adalah pada bumbu. Jika kebanyakan sate ayam menggunakan bumbu kacang, ia lebih menonjolkan cabai merah giling sebagai bumbu hidangannya.

"Bumbunya pakai cabai merah giling, makanya warnanya merah. Banyak yang bilang mirip saus sambal yang beredar di pasaran. Namun rasanya pasti beda, rasanya pedas manis," ujar pria asal Banjarmasin, itu.

Menurutnya, soal bumbu sebetulnya di Banjarmasin pun memilik beberapa perbedaan tergantung latar yang memasak. Apabila mengambil versi orang pribumi maka bumbu yang digunakan adalah sambal kacang, namun jika yang mengolah merupakan keturunan China, sebagaimana dirinya, maka cabai gilinglah yang biasa digunakan.

Selain menu sate tulang, Stevanus juga punya menu lain yang tak jarang menjadi tandem sate tulang, yaitu soto banjar. Untuk soto yang menggunakan suwiran ayam tersebut, Eldorado menggunakan kuah bening. "Sebagaimana sate, soto banjar juga memiliki perbedaan tergantung latar pemasaknya. apabila pribumi mereka biasa pakai santan. Kalau keturunan ada yang pakai susu ada juga yang bening," katanya.

Setelah puas mengupas hidangan bersama sang pemilik, sekarang saatnya menyantap si tulang yang sedari tadi membuat penasaran. Tak lupa dengan sang tandem soto banjarnya.

Tak lama berselang makanan siap di hadapan saya. Sate dengan potongan isian ayam bagian punggung dalam ukuran cukup besar berjumlah sepuluh tusuk. Disajikan dalam sebuah piring, terpisah dari bumbu merah khas-nya. Meski akan menemukan tekstur keras dari tulang ketika menyantap, namun ada rasa khas dari tulang yang otomatis menjadi wajah tersendiri dalam hidangannya.

Tulangnya jadi bumbu

Saat digigit tentu sedikit keras karena gigi beradu dengan tulang. Perkara rasa, sate yang disantap tanpa bumbu merah didominasi oleh rasa manis yang menentramkan lidah. Meski terdapat aksen keras namun setelah dikunyah kenikmatanya semakin kentara. Meski ada tulang bukan berarti tanpa daging.

Karena bagian punggung ayam dekat dengan tulang dan juga kulit maka otomatis dagingnya pun amat lembut dan sedikit berlemak. Hal itu yang membuat rasanya sangat khas di lidah. Juicy, empuk, dan manis, namun tetap berjuang karena harus memisahkan daging dari tulangnya.

Intinya hidangan ini memiliki rasa khas yang masih belum ditemukan padanannya dalam kosakata lidah saya. Benar apa yang diucapkan Setavanus sebelumnya bahwa tulang belakangnya sendiri menjadi bumbu khusus hidangan tersebut. Betul-betul hidangan yang layak dijadikan referensi.

Saking nikmatnya saya sampai lupa belum menambahkan bumbu merah untuk melengkapi keabsahan hidangan tersebut. Bumbu merah cukup kental mirip saus sambal itu kemudian segera saya tambahkan ke sate.

Saat disantap peran bumbu merahnya jelas semakin memperkaya dimensi rasa hidangan tersebut. Jika sebelumnya manis merajalela kini terdapat rasa pedas yang sangat sopan menyelinap di indera perasa. Makin lengkaplah konsolidasi rasanya.

Kemudian soto banjar yang disajikan dengan kuah bening. Di dalamya terdapat soun, keripik kentang, suwiran ayam, potongan telur, dan perkedel. Rasa kuahnya benar-benar bersahabat di mulut. Tak ada sebuah tendangan bumbu yang mengejutkan, rasanya yang harmonis cocok menjadi tandem sate yang memberikan gejolak rasa lebih pada lidah. Tapi jelas satenya lebih oke menurut saya.

Dinda (24) salah seorang pengunjung yang hadir juga mengakui sedapnya hidangan sete tulang Eldorado. "Bumbunya dan rasa dagingnya emang jempol deh. Tapi buat orang yang pakai behel seperti saya memang rada repot sama tulangnya. Kesimpulannya tetap mantap," ujarnya.

Dalam sehari kedai Eldorado rata-rata menghabiskan 400 tusuk sate tulang yang berarti 15 kilogram ayam bagian punggung. Sedangkan untuk sotonya, Stevanus mengaku 30 porsi habis per harinya. Adapun omzet harian kedainya rata-rata mencapai Rp 2 juta.

Selain menu sate tulang, Eldorado juga menyajikan berbagai varian sate lainnya, yaitu daging ayam, kulit ayam, dan brutu ayam yang seporsi (berisi 10 tusuk) seharga Rp 30.000. Sedangkan untuk soto banjarnya dibanderol seharga Rp 17.000. "Cakupan harga keseluruhan berkisar antara Rp 1.500 - Rp 30.000," imbuh Stevanus.

Kedai sate berbentuk tenda sederhana tersebut buka setiap hari mulai pukul 18.00 hingga 23.30. Stevanus mengaku saat akhir pekan merupakan waktu sibuk di tempat usahanya.

Bagi Anda di sekitaran Kelapagading tak sabar mencicipi sate Eldorado, namun merasa berat berkunjung langsung tak masalah karena layanan pesan antar jadi solusinya. Tinggal hubungi nomor (021)97777283 atau 087878777283 (Stevanus) Anda bisa menuntaskan rasa penasaran. Selain pesan antar Eldorado juga melayani acara pesta, seperti perayaan hari besar keagamaan, maupun ulang tahun. (m11)

Batavia Sunyi saat Sensus Berlangsung

IP is over the quota
JANINE HELGA GROENEVELD WAROKKAPintu masuk Batavia Stad Fashion Outlet.

PEMERINTAH Hindia-Belanda memutuskan melakukan sensus penduduk secara serentak di seluruh nusantara pada tahun 1930 (G Termorshuizen. Realisten en Reactionairen: Een Geschiedenis van de Indisch-Nederlandse Pers 1905-1942. Leiden: KITLV, 2011).

Tak seorang pun dapat menghindari sensus itu. Semua orang, termasuk warga Eropa, China, dan Arab, yang mengalami peristiwa itu takkan dapat melupakannya. Rencana pendataan penduduk itu didahului dengan berbagai pengumuman dan penyebaran informasi oleh pemerintah di masing-masing kota.

Hari Selasa, 7 Oktober 1930, ratusan petugas sensus disebarkan di seluruh wilayah Batavia. Pagi itu, di halaman pertama Het Bataviaasch Nieuwsblad tampak sebuah pengumuman dengan huruf-huruf bercetak tebal: “Heden heeft hier ter stede de momenttelling plaats. De tellers beginnen hun arbeid om half 7 uur in de namiddag. BLIJFT HEDENAVOND THUIS! Houdt uw honden tussen half 7 en 10u s’avonds aan een ketting!” (Hari ini di kota akan dilakukan pendataan penduduk. Petugas-petugas pendataan akan mulai bekerja pada pukul 18.30, malam hari. TINGGALLAH DI RUMAH! Di antara pukul 06.30 sampai pukul 10.00 malam hari, semua anjing peliharaan harus diikat!).

Malam itu para petugas turun ke jalan. Mereka mendatangi setiap rumah satu per satu. Petugas terakhir menyelesaikan tugasnya menjelang tengah malam. Keesokan harinya Harian Java Bode memuat laporan pandangan mata yang menarik :

"Tadi malam, Batavia tampak tenang dan damai. Tak terdengar bunyi klakson taksi atau pun dentang-denting musik. Suara-suara yang biasanya terdengar setiap malam tak terdengar. Segala bebunyian di jalanan, yang biasanya mencirikan kehidupan kota besar, sama sekali tak terdengar.

Sebelum matahari terbenam, semua toko dan warung sudah menutup pintu. Lampu-lampu yang biasanya memeriahkan dan mempercantik jalan-jalan di kota dan etalase toko tidak menyala. Jalan-jalan pertokoan terkesan gelap dan agak menyedihkan, bahkan lebih sepi daripada suasana Minggu malam. Di rumah-rumah, para pembantu sejak sore mulai gelisah melirik jam dinding. Sebelum para petugas datang, mereka sudah harus di rumah masing-masing di kampung-kampung Batavia. Rupanya, bayangan kedatangan petugas sensus lebih menyeramkan daripada bayangan didatangi oleh sekompi serdadu Belanda!"

Setelah ia sendiri didata, si wartawan Java Bode cepat-cepat turun ke jalan. Malam itu, semua mobil dapat berbalapan di jalan. Tak ada tanda-tanda kehidupan di Batavia! Sungguh mengherankan! Tak seekor binatang pun tampak di jalan! Bahkan, anjing-anjing liar yang biasanya tampak mengendus-endus sampah Batavia tak ada!

Gedung-gedung bioskop yang selalu ramai tampak sesepi kuburan. Glodok (Jakarta Barat), dengan empat gedung bioskopnya, tampak seperti kota hantu yang ditinggalkan oleh penduduknya. Semua warung dan kios penjual makanan di dekat bioskop-bioskop itu tutup. Pangkalan taksi yang tak pernah sepi hampir tak dapat dikenali. Sang wartawan tiba-tiba menyadari bahwa para sopir taksi pun menunggu kedatangan petugas sensus.

(frieda.amran@yahoo.com, anggota asosiasi Anthropologi Indonesia)